Sudah Rajin Posting Tiap Hari, Tapi Medsos Tetap Sepi?

Sudah Rajin Posting Tiap Hari, Tapi Medsos Tetap Sepi? – Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah ﷻ yang telah memudahkan kita memanfaatkan berbagai sarana dakwah, termasuk media sosial di era digital ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Bapak/Ibu yang dirahmati Allah ﷻ, pernahkah merasakan kondisi ini? Tim yayasan sudah berusaha keras membuat konten, desain, hingga laporan kegiatan. Setiap hari ada postingan baru, tapi jumlah pengikut nyaris tidak bertambah, komentar sepi, dan akun terasa seperti papan pengumuman tanpa pembaca. Padahal harapannya, media sosial bisa menjadi sarana efektif untuk menyebarkan kebaikan, memperluas jangkauan dakwah, sekaligus membangun kepercayaan publik.

Fenomena ini sangat umum dialami banyak yayasan. Mari kita bahas lebih dalam agar kita bisa memahami akar masalah sekaligus menemukan solusi yang tepat.


Rajin Posting Bukan Jaminan Akun Berkembang

Banyak pengurus yayasan beranggapan bahwa kunci keberhasilan media sosial adalah konsistensi posting. Tidak salah, konsistensi memang penting. Namun, jika yang dilakukan hanya mengunggah konten setiap hari tanpa strategi yang jelas, hasilnya sering kali mengecewakan.

Coba perhatikan beberapa gejala yang sering muncul:

  • Jumlah followers stagnan, meskipun konten terus diunggah.

  • Engagement rendah: likes hanya hitungan jari, komentar nyaris tidak ada.

  • Konten lebih terasa seperti laporan internal, bukan sesuatu yang menarik bagi publik.

  • Audiens tidak merasa perlu menanggapi karena tidak menemukan relevansi dengan kehidupan mereka.

Situasi ini membuat banyak pengurus merasa lelah. Ada rasa pesimis: “Untuk apa capek-capek posting setiap hari kalau tidak ada hasil?” Lebih jauh, akun yang tampak sepi justru bisa menjadi bumerang. Calon donatur mungkin meragukan kredibilitas, calon relawan tidak tertarik bergabung, dan reputasi yayasan bisa dianggap kurang profesional.


Bahaya Akun yang “Sepi Kehidupan”

Di tengah derasnya arus informasi digital, sekadar hadir di media sosial tidak cukup. Bayangkan, setiap menit ada ribuan konten baru yang berseliweran di timeline audiens. Jika konten yayasan hanya berupa poster formal tanpa sentuhan emosional, ia akan cepat tenggelam di antara banjir informasi.

Lebih berbahaya lagi, akun yang tampak “kosong interaksi” dapat menimbulkan kesan negatif:

  1. Menurunkan Kredibilitas. Donatur lebih berhati-hati menyalurkan dana jika akun yayasan tampak tidak hidup.

  2. Menghambat Pertumbuhan Relawan. Generasi muda cenderung bergabung dengan gerakan yang dinamis, bukan yang statis.

  3. Membatasi Jangkauan Dakwah. Padahal media sosial bisa menjadi sarana strategis untuk menyebarkan pesan kebaikan lebih luas.

Artinya, kerja keras tim bisa berakhir sia-sia jika tidak diiringi dengan strategi yang tepat.


Bangun Strategi dengan Positioning, Value, dan Interaksi

Kabar baiknya, kondisi ini bisa diatasi. Ada tiga kunci utama yang bisa membantu yayasan keluar dari jebakan “posting rutin tapi stagnan”: positioning, value, dan interaksi.

1. Positioning: Tentukan Identitas dengan Jelas

Yayasan harus memiliki jawaban yang tegas untuk pertanyaan ini: “Kami ingin dikenal sebagai apa, dan oleh siapa?”

  • Apakah ingin dikenal sebagai yayasan pendidikan anak?

  • Ataukah fokus pada pemberdayaan masyarakat?

  • Atau lebih banyak bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan?

Dengan positioning yang jelas, konten akan lebih terarah. Audiens pun tahu identitas yayasan dan merasa lebih mudah terhubung.

2. Value: Berikan Manfaat Nyata

Konten yayasan sebaiknya bukan sekadar pengumuman kegiatan. Berikan nilai lebih kepada audiens:

  • Kisah Inspiratif: Cerita nyata penerima manfaat atau relawan.

  • Edukasi Bermanfaat: Tips parenting Islami, informasi kesehatan, atau wawasan sosial.

  • Pesan Dakwah Ringan: Kajian singkat yang sesuai kebutuhan zaman.

Dengan value yang nyata, audiens tidak hanya membaca, tapi juga merasakan manfaat dari setiap konten.

3. Interaksi: Jadikan Media Sosial “Dua Arah”

Media sosial bukan papan pengumuman, melainkan ruang percakapan. Ajak audiens berinteraksi:

  • Ajukan pertanyaan di caption.

  • Gunakan fitur polling di Story.

  • Sapa audiens lewat Live.

  • Balas komentar dengan ramah.

Ketika audiens merasa dilibatkan, engagement akan tumbuh dengan sendirinya.


Studi Kasus Ringan

Misalnya, ada sebuah yayasan yang awalnya hanya mengunggah poster kegiatan. Engagement sangat rendah. Setelah mencoba strategi baru, menghadirkan kisah inspiratif anak binaan, membuat konten edukasi singkat, serta rutin membuka Q&A di Story, perlahan interaksi meningkat. Donatur merasa lebih percaya, relawan baru mulai bergabung, dan akun tidak lagi sepi.

Kuncinya bukan hanya “berapa kali posting”, tapi “seberapa bernilai postingan itu bagi audiens”.


Bapak/Ibu, membangun audiens digital untuk yayasan memang bukan pekerjaan instan. Ia butuh perencanaan, strategi, dan konsistensi yang tepat. Namun, begitu strategi ini berjalan, insyaAllah akun yayasan tidak hanya hidup, tapi juga menjadi sumber inspirasi, penggerak dukungan, dan penguat dakwah.

Jika Bapak/Ibu ingin memahami strategi ini lebih dalam, kami mengundang untuk mengikuti webinar “Optimalisasi Media Sosial untuk Branding & Fundraising Efektif”. Di sana, akan dibahas langkah demi langkah agar yayasan tidak sekadar aktif di media sosial, tapi juga dipercaya, didukung, dan berdampak lebih luas. Klik tautan berikut untuk info detailnya: yayasannaikelas.com/webinar

ilustrasi-rajin-posting-tetap-sepi
Ilustrasi dari Unsplash.com

Penutup

Akhirnya, mari kita kembali merenung: media sosial hanyalah sarana. Tujuan kita adalah dakwah dan amal shalih yang membawa manfaat. Jangan biarkan kerja keras tim berlalu tanpa arah. Dengan positioning yang jelas, value yang kuat, dan interaksi yang hangat, insyaAllah media sosial yayasan akan menjadi ladang amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga Allah ﷻ memberkahi setiap langkah Bapak/Ibu dalam mengelola amanah dakwah ini. Āmīn.

2 thoughts on “Sudah Rajin Posting Tiap Hari, Tapi Medsos Tetap Sepi?”

  1. Sangat membuka wawasan bagi Yayasan kami yang bertahun2 stagnan. Semoga Webinar kali ini semakin memajukan mindset kami utk berubah dan berkembang lebih baik. Baarokallaahu fiy kum

    1. Barakallahu fiik. Syukron atas doa dan komentarnya.

      Senang sekali artikelnya bisa memberikan perspektif baru. Komitmen antum untuk belajar dan berkembang inilah yang justru akan menjadi penggerak utama perubahan bagi Yayasan. Biidznillah.

      Semoga webinar-nya sukses dan memberikan strategi yang konkret dan aplikatif untuk diterapkan. Kami tunggu kabar baik perkembangannya!

      Semoga Allah mudahkan segala urusan.
      Tim Yayasan Naik Kelas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top