Dalam struktur organisasi, konflik pembina pengurus yayasan sering menjadi titik kritis yang menghambat kemajuan. Pembina umumnya hadir dengan visi jangka panjang dan nilai idealis, sementara pengurus setiap hari bergulat dengan realitas operasional yang penuh tantangan. Dua perspektif yang seharusnya saling melengkapi ini kerap berbenturan. Jika tidak dikelola dengan baik, konflik internal bisa meluas menjadi masalah serius yang mengancam keberlangsungan yayasan, baik dari sisi keuangan, reputasi, maupun kebermanfaatannya bagi masyarakat.
Artikel ini mengupas akar permasalahan, dampak nyata yang ditimbulkan, serta strategi praktis untuk mencegah konflik pembina pengurus yayasan agar justru melahirkan sinergi yang produktif.
Mengapa Konflik Pembina Pengurus Yayasan Kerap Terjadi?
Bayangkan seorang pengurus mengusulkan menjual sebidang tanah yang tidak produktif untuk mendanai program sosial yang mendesak. Namun, pembina menolak tegas karena tanah tersebut dianggap simbol warisan wakaf dari pendiri yayasan. Di sisi lain, pembina mungkin ingin membangun gedung baru sebagai legacy, sementara pengurus merasa anggaran pemeliharaan gedung yang ada saja sudah membebani kas yayasan.
Situasi semacam ini bukan kasus langka. Beberapa akar penyebab konflik pembina pengurus yayasan antara lain:
-
Perbedaan Horizon Waktu
Pembina umumnya fokus pada visi jangka panjang: menjaga warisan, membangun legacy, dan keberlanjutan hingga puluhan tahun ke depan. Sebaliknya, pengurus harus memastikan kebutuhan jangka pendek, menengah terpenuhi, mulai dari gaji karyawan, program harian, hingga biaya pemeliharaan. -
Perbedaan Akses Informasi
Pengurus memiliki data langsung tentang kondisi aset, arus kas, dan kebutuhan lapangan. Pembina biasanya hanya menerima laporan periodik yang ringkas, sehingga perspektifnya bisa berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan. -
Ambiguitas dalam AD/ART
Banyak yayasan memiliki Anggaran Dasar/ART yang tidak jelas dalam mendefinisikan batas wewenang pembina dan pengurus. Akibatnya, muncul tarik-menarik kekuasaan, terutama pada keputusan strategis terkait aset. -
Komunikasi yang Tidak Efektif
Dialog antar pihak sering hanya terjadi ketika masalah sudah muncul. Tanpa forum rutin yang terstruktur, perbedaan visi semakin membesar dan sulit dijembatani.
Dampak Buruk Konflik Pembina Pengurus Yayasan yang Tak Terselesaikan
Konflik pembina pengurus yayasan yang tidak diselesaikan bisa menjadi penghambat utama kemajuan. Layaknya kapal dengan dua nakhoda yang menarik kemudi ke arah berlawanan, yayasan bisa mengalami stagnasi bahkan kemunduran.
Beberapa dampak nyata yang sering terjadi:
-
Aset Tidak Produktif
Aset strategis seperti tanah atau gedung bisa terbengkalai karena tidak ada kesepakatan apakah dijual, dikembangkan, atau dipertahankan. -
Kehilangan Energi Internal
Energi pengurus yang seharusnya digunakan untuk membangun program habis untuk berdebat dan menenangkan konflik internal. -
Turnover Pengurus
Pengurus potensial yang merasa frustasi karena tidak diberi ruang bisa memilih mengundurkan diri. Hal ini membuat yayasan kehilangan sumber daya manusia berkualitas. -
Kerugian Finansial
Keputusan terburu-buru atau kebijakan yang saling tarik-menarik bisa membuat aset kehilangan nilai atau peluang pendanaan hilang begitu saja. -
Turunnya Reputasi
Donatur dan mitra eksternal bisa kehilangan kepercayaan ketika mendengar adanya disharmoni internal. Reputasi yayasan yang dibangun bertahun-tahun bisa rusak dalam sekejap.
Yang paling dirugikan pada akhirnya adalah masyarakat penerima manfaat, karena program sosial terhambat hanya akibat konflik pembina pengurus yayasan yang sebenarnya bisa dicegah.
Strategi Praktis Mencegah Konflik Pembina Pengurus Yayasan
Menghindari perbedaan pandangan tidak mungkin, karena pembina dan pengurus memang membawa perspektif berbeda. Namun, konflik bisa diubah menjadi energi konstruktif jika dikelola dengan tepat. Berikut strategi yang bisa diterapkan:
1. Perjelas Wewenang melalui AD/ART
Langkah fundamental adalah meninjau ulang AD/ART yayasan. Dokumen ini harus jelas menyebutkan:
-
Keputusan apa saja yang memerlukan persetujuan pembina, misalnya jual-beli aset bernilai besar atau perubahan visi yayasan.
-
Keputusan apa yang menjadi ranah pengurus, misalnya pemeliharaan rutin, perekrutan staf, atau penyewaan aset skala kecil.
Dengan delineasi kewenangan, konflik pembina pengurus yayasan bisa diminimalisasi sejak awal.
2. Bangun Forum Komunikasi Terstruktur
Jadwalkan pertemuan rutin bulanan atau triwulanan antara pembina dan pengurus. Bukan hanya untuk mendengar laporan, tetapi juga membahas strategi jangka menengah dan panjang. Forum ini sebaiknya memiliki notulen resmi agar setiap keputusan tercatat.
3. Sediakan Laporan yang Komprehensif
Pengurus harus menyiapkan laporan yang lebih dari sekadar angka. Sertakan analisis SWOT, proyeksi keuangan, serta potensi dampak sosial. Dengan begitu, pembina dapat melihat konteks besar dan membuat keputusan yang lebih objektif.
4. Libatkan Pihak Independen
Dalam konflik yang sudah terlanjur tajam, tidak ada salahnya melibatkan mediator independen, misalnya konsultan hukum yayasan atau auditor independen. Perspektif eksternal bisa membantu mencairkan kebuntuan.
5. Ingatkan pada Tujuan Bersama
Perbedaan pandangan sebaiknya selalu diarahkan kembali pada tujuan utama: keberlangsungan yayasan untuk melayani masyarakat. Bukan soal siapa yang menang atau kalah, melainkan apa yang terbaik untuk yayasan.
Memahami strategi di atas hanyalah langkah awal. Faktanya, dinamika yayasan di lapangan sering kali lebih kompleks. Bagaimana menyusun AD/ART yang tegas namun adil? Teknik komunikasi apa yang efektif menjembatani perbedaan perspektif? Bagaimana mengelola konflik pembina pengurus yayasan yang sudah terlanjur terjadi?
Semua ini akan dibahas dalam Webinar Eksklusif: “Cara Mencegah Sengketa Aset Yayasan”. Sesi ini dirancang untuk memberikan panduan praktis dan studi kasus nyata agar pengurus dan pembina bisa menciptakan sinergi yang kokoh.
📌 [Daftarkan diri Anda sekarang] dan investasikan waktu untuk membangun yayasan yang solid, harmonis, dan profesional.

![[YNK] Konflik Pembina Pengurus Yayasan](https://yayasannaikkelas.com/wp-content/uploads/2025/09/YNK-Konflik-Pembina-Pengurus_11zon-1024x576.webp)

